1.1 Pengertian Sistem Informasi
Informasi ialah data yang telah diolah sedemikian rupa, sehingga dapat dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan. Informasi memegang peran yang sangat penting dalam suatu perusahaan untuk mengetahui kegiatan apa yang telah terjadi dengan perusahaannya,
melakukan evaluasi apakah kegiatan yang
dilakukan telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan menjamin agar data
tersebut dapat diolah secara efisien menjadi informasi yang
akurat, dapat dipercaya dan tepat waktu maka dalam pengolahan data
tersebut diperlukan suatu alat yang dinamakan sistem informasi.
Ada beberapa perbedaan sistem informasi yang
diterapkan perusahaan. Salah satu sistem informasi yang
sangat diperlukan bagi manajemen untuk mengolah data
administrasi dan keuangan adalah system informasi akuntansi. Perbedaan tersebut sebenarnya hanya terletak pada penekanannya saja, namun pada dasarnya tetap mengandung pengertian yang
sama. Davis, dan kawan-kawan,
mengatakan bahwa Accoun-ting
information system encompass the process and procedures by which an
organization’s financial information is received, registered, recorded,
handled, processed, stored, and ultimately disfosed of.
Penjelasan
di atas menekankan pada proses dan prosedur pengelolaan atas informasi keuangan organisasi mulai dari penerimaan sampai dengan informasi tersebut tidak berguna lagi bagi organisasi.
Sedangkan Robert G. Murdick menyatakan bahwa The accounting
information system can be defined as the set of activities of the organization
responsible for preparation of financial information and the information
obtained from transaction data for the purpose of : (1) internal reporting to
managers for use in planning and controlling current and future operations, and
(2) external reporting to stockholders, government and other outside parties.
Pengertian
di atas jelas mengenai system informasi akuntansi dan dapat diambil kesimpulan bahwa sistem informasi akuntansi mencakup proses dan prosedur pengelolaan informasi keuangan organisasi dengan tujuan untuk pelaporan kepada pihak intern maupun ekstern perusahaan.
1.2 Pengertian Piutang dan Klasifikasinya
1.2 Pengertian Piutang dan Klasifikasinya
Piutang ialah suatu proses yang
penting, yang dapat menunjukkan satu bagian yang besar dari harta likuid perusahaan.
Kieso dan Weygandt mendefinisikan pengertian piutang sebagaiberikut
: Receivables are claims held against customers and others for money, goods, or
services. Sedangkan pengertian piutang menurut S.Hadibroto ialah : Piutang merupakan klaim terhadap pihak lain,
apakah klaim tersebut berupa uang, barang atau jasa,
untuk maksud akuntansi istilah dipergunakan dalam arti yang
lebih sempit yaitu merupakan klaim yang
diharapkan akan diselesaikan dengan uang.
Penjelasan definisi di atas diketahui bahwa piutang secara luas diartikan sebagai tagihan atas segala sesuatu hak perusahaan baik berupa uang,
barang maupun jasa atas pihak ketiga setelah perusahaan melaksanakan kewajibannya,
sedangkan secara sempit piutang diartikan sebagai tagihan yang dapat diselesaikan dengan diterimanya uang di masa yang akan datang.
Pada umumnya piutang timbul ketika sebuah perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit dan berhak atas penerimaan kas di masa mendatang, yang prosesnya dimulai dari pengambilan keputusan untuk memberikan kredit kepada langganan, melakukan pengiriman barang, penagihan dan akhirnya menerima pembayaran, dengan kata lain
piutang dapat juga timbul ketika perusahaan memberikan pinjaman uang kepada perusahaan lain dan menerima promes atau wesel, melakukan suatu jasa atau transaksi lain yang menciptakan suatu hubungan dimana satu pihak berutang kepada yang lain seperti pinjaman kepada pimpinan atau karyawan. Piutang merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam modal kerja suatu perusahaan. Sebagian piutang dapat dimasukkan dalam modal kerja yaitu bagian piutang yang terdiri dari dana yang diinvestasikan dalam produk yang terjual dan sebagian lain yang termasuk modal
kerja potensial yaitu bagian yang merupakan keuntungan.
Piutang merupakan elemen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar secara terus menerus dalam rantai perputaran modal kerja yaitu KasàPersediaanàPiutangàKas. Dalam keadaan normal dan dimana penjualan pada umumnya dilakukan dengan kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi dari pada persediaan, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu langkah, yang penting kebijaksanaan kredit yang efektif dan prosedur-prosedur penagihan untuk menjamin penagihan piutang yang tepat pada waktunya dan mengurangi kerugian akibat piutang tak tertagih.
Klasifikasi Piutang
Pada umumnya piutang bersumber dari kegiatan operasi
normal perusahaan yaitu penjualan kredit atas barang dan jasa kepada pelanggan,
tetapi selain itu masih banyak sumber-sumber
yang dapat menimbulkan piutang. Smith
and Skousen memberikan klasifikasi piutang terdiri atas “piutang dagang
(trade receivables)
dan piutang bukan dagang”.
Piutang dagang
a. Wesel tagih atau notes receivables
Wesel tagih ini didukung oleh suatu janji formal tertulis untuk membayar.
b. Piutang usaha atau
accounts receivables
Piutang usaha ialah piutang dagang
yang tidak dijamin
“rekening terbuka”.
Sedangkan piutang dagang ialah suatu perluasan kredit jangka pendek kepada pelanggan.
Pembayaran-pembayarannya biasanya jatuh tempo dalam tiga puluh sampai Sembilan puluh hari.Perjanjian kreditnya merupakan persetujuan informal antara penjual dan pembeli yang didukung oleh dokumen-dokumen perusahaan yaitu fakturdan kontrak-kontrak penyerahan. Biasanya piutang dagang tidak mencakup bunga,
meskipun bunga atau biaya jasa dapat saja ditambahkan bila mana pembayaran tidak dilakukan dalam periode tertentu,
dengan kata lain piutang dagang merupakan tipe piutang paling besar.
Piutang bukan dagang
Piutang bukan dagang ini meliputi seluruh tipe piutang lainnya dan mempunyai beberapa transaksi-transaksi yaitu :
a.
Penjualan surat berharga atau pemilik selain barang dan jasa.
b.
Uang muka kepada pemegang saham, para direktur,
pejabat, karyawan dan perusahaan-perusahaan affiliasi.
c.
Setoran-setoran kepada kreditur, perusahaan kebutuhan umum dan instansi-instansi lainnya.
d.
Pembayaran dimuka pembelian-pembelian.
e.
Setoran-setoranuntuk menjamin pelaksanaan kontrak atau pembayaran biaya.
f.
Tuntutan atas kerugian atau kerusakan.
g.
Saham yang masih harus disetor.
h.
Piutang deviden dan bunga.
Piutang bukan dagang umum nya didukung dengan persetujuan-persetujuan
formal dan secara tertulis. Piutang bukan dagang harus diikhtisarkan dalam perkiraan-perkiraan
yang berjudul sesuai dan dilaporkan secara terpisah dalam laporan keuangan.
1.3 Sistem Informasi Piutang Dagang
Sistem informasi piutang dagang dirancang
untuk mencatat transaksi terjadinya piutang dan berkurangnya piutang. Terjadinya
piutang berasal dari transaksi penjualan kredit dan berkurangnya piutang
berasal dari transaksi retur penjualan dan penerimaan kas dari piutang. Transaksi
berkurangnya piutang yang timbul dari transaksi penerimaan kas dari piutang
dikelompokan dalam sistem akuntansi kas. Kegiatan penjualan kredit dimulai
dengan diterimanya order dari pelanggan, kemudian dilanjutkan dengan permintaan
persetujuan pemberian kredit, pengiriman barang, penagihan, dan pencatatan
piutang. Kegiatan
retur penjualan dimulai dengan diterimanya dengan pengambilan barang dari
pelanggan, kemudian dilanjutkan dengan permintaan persetujuan retur penjualan,
penerimaan barang, pencatatan berkurangnya piutang, dan berakhir dengan
distribusi penjualan.
Dokumen
yang digunakan dalam sistem informasi piutang
dagang ialah:
1. Surat Order Pengiriman dan tembusannya
Dokumen ini merupakan lembar pertama surat
order pengiriman yang memberikan otorisasi kepada fungsi pengiriman untuk mengirimkan jenis barang dengan jumlah dan spesifikasi seperti yang
tertera dalam dokumen tersebut.
Tembusan dokumen ini berupa
:
Ø Tembusan Kredit (Credit Copy)
Dokumen ini digunakan untuk memperoleh
status kredit pelanggan untuk mendapatkan otorisasi penjualan kredit dari fungi kredit.
Ø Surat Pengakuan (Acknowledgement Copy)
Dokumen ini dikirimkan oleh fungsi penjualan kepada pelanggan untuk memberitahu bahwa ordernya telah diterima dan dalam
proses pengiriman.
Ø Surat Muat (Bill of Lading)
Dokumen ini digunakan sebagai bukti penyerahan barang dari perusahaan kepada perusahaan angkutan umum.
Ø Slip Pembungkus (Packing Slip)
Dokumen ini ditempelkan pada pembungkus baranguntuk memudahkan fungsi penerimaan
di perusahaan pelanggan dalam mengidentifikasi barang-barang
yang diterimanya.
Ø Tembusan Gudang (Warehouse Copy)
Dokumen ini merupakan tembusan surat
order pengiriman yang dikirim ke fungsi gudang untuk menyiapkan jenis barang dengan spesifikasi sesuai dengan
yang tercantum didalamya, agar menyerahkan barang tersebut ke fungsi pengiriman,
dan untuk mencatat barang yang dijual dalam kartu gudang.
2. Arsip Pengendalian Pengiriman (Sales Order Follow-up Copy)
Dokumen ini merupakan tembusan surat order pengiriman yang diarsipkan oleh fungsi penjualan menurut tanggal pengiriman yang dijanjikan. Jika fungsi penjualan telah menerima tembusan surat order
pengiriman dari fungsi pengiriman yang merupakan bukti telah dilaksanakan pengiriman barang, arsip pengendalia npengiriman ini kemudian diambil dan dipindahkan kearsip order pengiriman yang
telah dipenuhi. Arsip pengendalian pengiriman inimerupakan sumber informasi untuk membuat laporan mengenai pesanan pelanggan yang belum dipenuhi.
3. Arsip Index Silang (Cross-index
File Copy)
Merupakan tembusan surat order pengiriman yang
diarsipkan secara alfabetik menurut nama pelanggan untuk memudahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pelanggan mengenai status pesanannya.
4. Faktur Penjualan danTembusannya
Faktur penjualan ialah dokumen yang digunakan sebagai dasar untuk mencatat timbulnya piutang. Faktur penjualan merupakan lembar pertama yang dikirim oleh fungsi penagihan kepada pelanggan.
Tembusan dokumen ini berupa :
Ø Tembusan Piutang (Account Receivable Copy)
Dokumen ini merupakan tembusan faktur penjualan yang
dikirimkan oleh fungsi penagihan ke fungsi akuntansi sebagai dasar untuk
mencatat piutang dalam kartu piutang.
Ø Tembusan Jurnal Penjualan (Sales Journal Copy)
Dokumen ini merupakan tembusan yang dikirimkan oleh
fungsi penagihan ke fungsi akuntansi sebagai dasar mencatat transaksi penjualan
dalam jurnal penjualan.
Ø Tembusan Analisis (Analysis Copy)
Dokumen ini merupakan tembusan yang dikirimkan oleh
fungsi penagihan ke fungsi akuntansi sebagai dasar untuk menghitung harga pokok
penjualan yang dicatat dalam kartu persediaan, untuk analisis penjualan, dan
untuk perhitungan komisi wiraniaga
Ø Tembusan wiraniaga (Sales person Copy)
Dokumen ini dikirimkan oleh fungsi penagihan kepada
wiraniaga untuk memberitahu bahwa order dari pelanggan yang lewat ditangannya
telah dipenuhi sehingga memungkinkannya untuk menghitung komisi penjualan yang
menjadi haknya.
5.
Rekapitulasi
Harga Pokok Penjualan
Rekapitulasi
harga pokok penjualan merupakan dokumen pendukung yang digunakan untuk
menghitung total harga pokok produk yang dijual selama periode akuntansi
tertentu. Data yang dicantumkan dalam dokumen ini berasal dari kartu
persediaan.Secara periodik harga pokok produk yang dijual selama jangka waktu
tertentu dihitung dalam rekapitulasi harga pokok penjualan dan
kemudian dibuatkan dokumen sumber berupa bukti memorial untuk mencatat harga
pokok produk yang dijual dalam periode akuntansi tertentu.
6. Bukti Memorial
Bukti
memorial merupakan dokumen sumber untuk dasar pencatatan kedalam jurnal
umum.Dalam sistem penjualan kredit, bukti memorial merupakan dokumen sumber
untuk mencatat harga pokok produk yang dijual dalam periode akuntansi tertentu.
Adapun
yang menjadi fungsi-fungsi yang terkait dalam piutang dagang ialah sebagai
berikut :
v Bagian Penjualan
Menerima
order pelanggan baik melalui surat maupun telepon yang mengidentifikasikan
jenis dan kuantitas barang yang diminta. Fungsi ini akan menambahkan informasi
yang belum lengkap pada surat order (seperti keterangan barang yang dijual,
nama dan alamat pelanggan, jumlah dan harga per unit, dan informasi keuangan lainnya
seperti potongan harga, dan ongkos angkut.)
v Departemen Kredit
Bagian
kredit menentukan batas kredit, kelayakan pemberian kredit pada pelanggan dan
memberikan persetujuan kredit sehingga salinan order penjualan dapat
didistribusikan ke departemen penagihan, pergudangan, dan pengiriman.
v Gudang
Bagian
gudang bertanggung jawab untuk menyimpan barang dan menyiapkan barang yang
dipesan oleh pelanggan, menandatangani salinan surat perintah pengeluaran
barang sebagai bukti pesanan sudah dikerjakan dengan benar serta menyerahkan
barang ke departemen pengiriman. Bagian gudang perlu mencatat penyesuaian data
persediaan
v Departemen Pengiriman
Bagian
pengiriman bertanggung jawab untuk mencocokkan barang dengan surat surat jalan
untuk memastikan kebenaran pesanan. Petugas pengiriman menyerahkan barang,
dokumen pengiriman, dan dua rangkap Bill Of Leading ke perusahaan jasa
pengiriman, kemudian melakukan tugas-tugas sebagai berikut :
·
Mencatatat
pengiriman pada buku harian pengiriman barang.
·
Menyerahkan
dokumen surat perintah pengeluaran barang dan surat jalan ke departemen
penagihan sebagai bukti pengiriman sudah dilaksanakan.
·
Menyimpan
satu salinan untuk tiap-tiap dokumen pengiriman dan dokumen tagihan bongkar
muat barang.
v Departemen Penagihan
Bagian
penagihan ini bertanggung jawab untuk membuat dan mengirimkan faktur penjualan
kepada pelanggan setelah memperoleh informasi lengkap berkenaan pengiriman
barang dari informasi yang terdapat pada surat perintah pengeluaran barang dan
surat jalan, membuat jurnal penjualan, serta mengirimkan salinan buku besar
dari order penjualan ke bagian piutang.
v Departemen Akuntansi
Bagian
piutang bertanggung jawab untuk memposting data salinan buku besar order
penjualan ke buku besar pembantu piutang dan membuat serta mengirimkan pernyataan
piutang kepada para debitur. Bagian buku besar meringkas buku rekening dari
bagian piutang, membuat laporan penjualan serta mencatat harga pokok persediaan
yang dijual ke dalam kartu persediaan. Laporan Yang dihasilkan Dalam Penjualan
Kredit merupakan hasil akhir proses akuntansi. Laporan berisi informasi yang
merupakan keluaran sistem akuntansi.
7. prosedur yang membentuk sistem penjualan kredit ialah sebagai
berikut :
ü Proses penjualan
Proses
penjualan diawali dari adanya pesanan dari pelanggan yang menyatakan jenis dan
kuantiítas barang yang ditujukan kepada departemen penjualan dalam bentuk
surat, telepon langsung oleh pelanggan kepada bagian penjualan dan kemudian
akan membuat sales order untuk didistribusikan ke departemen lain yang
berkaitan dengan masalah penjualan.
ü Proses Kredit
Fungsi
dari departemen kredit meliputi penyetujuan atau otorisasi atas transaksi yang
mencakup verifikasi atas kelayakan kredit dapat diberikan kepada
pelanggan.Selain itu, departemen kredit juga berperan dalam menyetujui adanya
retur dan potongan penjualan serta adanya penyesuaian atas rekening pelanggan,
menilai dan menyetujui neraca saldo umur piutang dalam penentuan sisa kredit
dari pelanggan. Salinan dari persetujuan kredit atas penjualan akan dikelola
dan disimpan dalam file pesanan pelanggan sampai berakhirnya transaksi.
ü Proses Penagihan
Faktur, memo
kredit dan penyesuaian faktur lainnya yang diterima pada saat persetujuan
kredit oleh departemen penagihan sebagai tanda terima dari dokumen pengiriman
atas pengeluaran barang akan dikelola ke piutang dagang untuk diposting ke
rekening pelanggan.
ü Proses Pengeluaran Barang dari Gudang
Salinan
surat penjualan barang yang berasal dari departemen penjualan atas adanya
pesanan penjualan yang dikelola kemudian oleh bagian gudang mengisyaratkan
kepada bagian gudang untuk mempersiapkan barang yang diinginkan oleh pelanggan
sesuai dengan pesanan dan mengeluarkan barang yang dimaksud. Setelah petugas
menulis inisial pada salinan surat pengeluaran barang yang mengindikasikan bahwa
pesanan sudah lengkap dan benar, satu salinan surat pengeluaran barang akan
dikirimkan ke departemen pengiriman dan salinan lainnya akan disimpan di gudang
sebagai catatan transaksi.
ü Proses Pengiriman Barang
Pengiriman
barang akan dilakukan oleh departemen pengiriman setelah departemen pengiriman
menerima surat pengiriman barang dari departemen persediaan (bagian gudang).
Dokumentasi atas adanya pengiriman barang akan disiapkan oleh departemen
pengiriman sebuah bill of lading yaitu pertukaran dokumentasi antara pengirim
dan pengangkut.
ü Proses Update Persediaan
Dalam
hal pemutakhiran data persediaan barang dilakukan berdasarkan atas dokumen
pengeluaran barang dari departemen pengiriman yang akan dilakukan oleh Bagian
akuntansi yang akan memperbaharui catatan akun buku besar pembantu persediaan,
dan setelah proses pembukuan selesai dilakukan dokumen pengeluaran barang akan
disimpan.
ü Proses Piutang Dagang
Bagian
yang berperan atas pencatatan piutang dagang oleh pelanggan dilakukan oleh
departemen akuntansi bagian piutang dagang dengan cara membukukan salinan buku
besar pesanan penjualan ke buku besar pembantu piutang dagang dan setelah
proses pembukuan selesai dilakukan staff piutang dagang akan menyimpan salinan
buku besar yang akan merangkum setiap saldo akun menjadi satu dan
mengirimkannya ke buku besar umum.
ü Proses Pencatatan Buku besar Umum
Pengendalian
persediaan dan ikhtisar setiap akun yang berasal dari piutang dagang akan
terlaksana pada saat penutupan periode pemrosesan setelah departemen buku besar
umum telah menerima voucher jornal dari departemen penagihan.
1.4 Metode Pencatatan Piutang
Pencatatan piutang dapat dilakukan dengan salah satu dari metode berikut ini:
1. Metode Konvesional, dalam metode ini posting kedalam kartu piutang dilakukan atas dasar data yang dicatat dalam jurnal.berbagai transaksi yang mempengaruhi piutang adalah:
2. Transaksi Retur Penjualan, posting transaksi berkurangnya piutang dari transaksi retur penjulan di posting ke dalam kartu piutang atas dasar data yang telah di catat dalam jurnal retur penjualan
3. Transaksi Penerimaan Kas Dari Piutang, posting transaksi berkurangnya piutang dari pelunasan piutang oleh debitur di posting ke dalam kartu piutang atas dasar data yang telah dicatat dalam jurnal umum.
4. Transaksi Penghapusan Piutang, transaksi berkurangnya piutang dari transaksi penghapusan piutang di posting ke dalam kartu piutang atas dasar data yang dicatat dalam jurnal umum.
2. Metode Posting Langsung, metode ini dibagi menjadi dua golongan berikut ini:
A. Metode Posting Harian:
Posting langsung kedalam kartu piutang dengan tulisan tangan; jurnal hanya menunjukkan jumlah total harian saja (tidak rinci). Dalam metode ini, faktur penjualan yang merupakan dasar untuk pencatatan timbulnya piutang di posting langsung setiap hari secara rinci ke dalam kartu piutang. Jurnal penjualan diisi dengan jumlah total penjualan harian yang merupakan julah faktur penjulaan selama sehari. Faktur yang diterima dari bagian penagihan diterima oleh bagian piutang dalam batch disertai dengan pita daftar total (pre-list tape). Jumlah faktur penjualan yang tercantum dalam pita daftar total tersebut dicatat dalam jurnal penjualan. Selanjutnya, setiap bulan, jurnal penjualan tersebut di posting ke rekening kontrolpiutang dalam buku besar. Setiapbulan pula, diadakan rekonsiliasi antara rekening kontrol piutang dengan daftar saldo (trial balance) yang disusun dari kartu piutang.
Ada dua cara menangani media yang akan diposting kedalam kartu piutang:
1. Media disortasi meurut abjad sebelum diposting, di posting satu per satu kedalam kartu piutang, dan kemudian dibuat pita pembuktian ketelitian posting dari kartu piutang kemudian dicocokan dengan pita daftar total yang menyertai media pada saat diterima dari bagian penagihan. Pencocokan ini dimaksudkan untuk membuktikan ketelitian posting yang telah dilakukan.
2. Media di posting kedalam kartu piutang sesuai dengan urutan pada waktu diterima dari bagian penagihan.Posting lansung kedalam kartu piutang dan pernyataan piutang. Dalam metode ini, media di posting kedalam pernyataan piutang dengan kartu piutang dengan kartu piutang sebagai tembusan lembar kedua berfungsi sebagai kartu piutang.
B. Metode Posting Periodik:1. Posting Ditunda. Pada metode ini faktur penjualan yang diterima dari bagian penaggihan, oleh bagian piutang disimpan sementara, menunggu beberapa hari, untuk nantinya secara sekaligus di posting kedalam kartu piutang bersama-sama dalam sekali periode posting dengan menggunakan mesin pembukuan.
2. Penagihan Bersiklus (Cycle Billing). Dalam metode ini pada akhir bulan, dilakukan kegiatan posting yang meliputi (1) posting media yang dikumpulkan selama sebulan tersebut kedalam pernyataan piutang dan kartu piutang. (2) mencatat dan menghitung saldo kartu piutang.. metode ini membagi pekerjaan posting kedalam kartu piutang dan pernyataan piutang tersebut tersebar merata kedalam hari kerja selama sebulan. Setiap pelanggan akan menerima pernyataan piutang pada tanggal hari kerja yang sama setiap bulan.
3. Metode Pencatatan Tanpa Buku Pembantu (ledgerless bookeping), dalam metode ini Faktur penjualan beserta dokumen pendukungnay yang diterima dari bagian penagihan, oleh bagian piutang diarsippkan menurut nama pelanggan dalam arsip faktur yang belum bayar (unpaid invoice file). Pada saat diterima pembayarannya ada dua cara yang ditempuh:
1. Jika pelanggan pelanggan membayar penuh jumlah yang tercantum dalam faktur penjualan, faktur yang bersangkutan di ambil dari arsip faktur yang belum di bayar dan di cap “lunas”, kemudian dipindahkan kedalam arsip faktur yang telah dibayar.
2. Jika pelanggan hanya membayar sebagian jumlah dalma faktur, jumlah kas yang diterima dan sisa yang belum dibayar oleh pelanggan dicatat pada faktur tersebut. Kemudian dibuat faktur tiruan yang berisi informasi yang sama dengan faktur aslinya, dan faktur tiruan tersebut kemudian disimpan dalam arsip faktur yang telah dibayar, dan faktur asli disimpan kembali kedalam arsip faktur yang belum dibayar.
3. Metode Pencatatan Piutang Dengan Komputer. Metode pencacatatan ini menggunakan batch system. Dalam sistem ini dokumen sumber yang mengubah piutang dikumpulkan dan sekaligus di posting setiap hari untuk memutakhirkan catatan piutang.dalam sistem ini dibentuk dua macam arsip: arsip transaksi (transaction file) dan arsip induk (master file) dan pancatatan piutangnya dilkukan secara hariain dan setiap hari pula, arsip transaksi digunakan untuk memutakhirkan arsip induk piutang.
Adapun yang menjadi prosedur yang membentuk sistem penjualan kredit adalah sebagai berikut :
· Proses penjualan Proses penjualan diawali dari adanya pesanan dari pelanggan yang menyatakan jenis dan kuantiítas barang yang ditujukan kepada departemen penjualan dalam bentuk surat, telepon langsung oleh pelanggan kepada bagian penjualan dan kemudian akan membuat sales order untuk didistribusikan ke departemen lain yang berkaitan dengan masalah penjualan.
· Proses Kredit Fungsi dari departemen kredit meliputi penyetujuan atau otorisasi atas transaksi yang mencakup verifikasi atas kelayakan kredit dapat diberikan kepada pelanggan. Selain itu, departemen kredit juga berperan dalam menyetujui adanya retur dan potongan penjualan serta adanya penyesuaian atas rekening pelanggan, menilai dan menyetujui neraca saldo umur piutang dalam penentuan sisa kredit dari pelanggan. Salinan dari persetujuan kredit atas penjualan akan dikelola dan disimpan dalam file pesanan pelanggan sampai berakhirnya transaksi.
· Proses Penagihan Faktur, memo kredit dan penyesuaian faktur lainnya yang diterima pada saat persetujuan kredit oleh departemen penagihan sebagai tanda terima dari dokumen pengiriman atas pengeluaran barang akan dikelola ke piutang dagang untuk diposting ke rekening pelanggan.
· Proses Pengeluaran Barang dari Gudang Salinan surat penjualan barang yang berasal dari departemen penjualan atas adanya pesanan penjualan yang dikelola kemudian oleh bagian gudang mengisyaratkan kepada bagian gudang untuk mempersiapkan barang yang diinginkan oleh pelanggan sesuai dengan pesanan dan mengeluarkan barang yang dimaksud. Setelah petugas menulis inisial pada salinan surat pengeluaran barang yang mengindikasikan bahwa pesanan sudah lengkap dan benar, satu salinan surat pengeluaran barang akan dikirimkan ke departemen pengiriman dan salinan lainnya akan disimpan di gudang sebagai catatan transaksi.
· Proses Pengiriman Barang Pengiriman barang akan dilakukan oleh departemen pengiriman setelah departemen pengiriman menerima surat pengiriman barang dari departemen persediaan (bagian gudang). Dokumentasi atas adanya pengiriman barang akan disiapkan oleh departemen pengiriman sebuah bill of lading yaitu pertukaran dokumentasi antara pengirim dan pengangkut.
· Proses Update Persediaan Dalam hal pemutakhiran data persediaan barang dilakukan berdasarkan atas dokumen pengeluaran barang dari departemen pengiriman yang akan dilakukan oleh Bagian akuntansi yang akan memperbaharui catatan akun buku besar pembantu persediaan, dan setelah proses pembukuan selesai dilakukan dokumen pengeluaran barang akan disimpan.
· Proses Piutang Dagang Bagian yang berperan atas pencatatan piutang dagang oleh pelanggan dilakukan oleh departemen akuntansi bagian piutang dagang dengan cara membukukan salinan buku besar pesanan penjualan ke buku besar pembantu piutang dagang dan setelah proses pembukuan selesai dilakukan staff piutang dagang akan menyimpan salinan buku besar yang akan merangkum setiap saldo akun menjadi satu dan mengirimkannya ke buku besar umum.
· Proses Pencatatan Buku besar Umum Pengendalian persediaan dan ikhtisar setiap akun yang berasal dari piutang dagang akan terlaksana pada saat penutupan periode pemrosesan setelah departemen buku besar umum telah menerima voucher jornal dari departemen penagihan.
1.5 Sistem Informasi Akuntansi Penagihan Piutang
Penagihan piutang dari penjualan kredit dapat dilakukan melalui
berbagai cara, antara lain :
1.
Fungsi yang
terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit
Fungsi
yang terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit ialah :
a.
Fungsi secretariat
Fungsi ini bertanggungjawab dalam penerimaan cek dan surat
pemberitahuan atau remittance advice melalui pos dan para debitur perusahaan.
Fungsi ini juga bertugas membuat daftar surat pemberitahuan yang diterima
bersama dari para debitur dan fungsi ini berada di tangan bagian sekretariat.
b.
Fungsi penagihan
Fungsi ini bertanggungjawab untuk melakukan penagihan kepada para
debitur perusahaan berdasarkan daftar piutang yang ditagih yang dibuat oleh
fungsi akuntansi dan fungsi ini berada di tangan bagian penagihan.
c.
Fungsi kas
Fungsi ini bertanggungjawab atas penerimaan cek dari fungsi
sekretariat atau fungsi penagihan dan menyetorkan kas yang diterima dari
berbagai fungsi tersebut segera ke bank dalam jumlah penuh dan fungsi ini
berada di tangan bagian kas.
d.
Fungsi akuntansi
Fungsi ini bertanggungjawab dalam pencatatan penerimaan kas dari
piutang ke dalam jurnal penerimaan kas dan berkurangnya piutang ke dalam kartu
piutang, dan fungsi ini berada di tangan bagian akuntansi.
e.
Fungsi pemeriksa intern
Fungsi ini bertanggungjawab dalam melaksanakan perhitungan yang
ada di tangan fungsi kas secara periodik, dan melakukan rekonsiliasi bank,
untuk mengecek ketelitian catatan kas yang diselenggarakan oleh fungsi
akuntansi, dan fungsi ini berada di tangan bagian pemeriksa intern.
2.
Dokumen yang
digunakan dalam sistem penagihan piutang
Dokumen
yang digunakan dalam sistem penagihan piutang ialah :
1)
Surat pemberitahuan
2)
Daftar surat pemberitahuan
3)
Bukti setor bank
4)
Kuitansi.
Surat pemberitahuan merupakan dokumen untuk memberitahu maksud
pembayaran yang akan dilakukan. Daftar surat pemberitahuan merupakan
rekapitulasi penerimaan kas. Bukti setor bank merupakan bukti penyetoran kas
yang diterima dari piutang ke bank. Kuitansi merupakan bukti penerimaan kas
yang dibuat oleh perusahaan bagi para debitur yang telah melakukan pembayaran
utang mereka.
3.
Sistem penagihan
piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur
Sistem
penagihan piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur berupa:
v Penerimaan piutang mengirimkan daftar piutang yang sudah saatnya
ditagih kepada bagian penagihan.
v Bagian penagihan mengirimkan penagih untuk melakukan penagihan
kepada debitur.
v Bagian penagihan menerima cek atas nama dalam surat pemberitahuan
dari debitur.
v Bagian penagihan menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian
piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
v Bagian kas mengirim kuitansi sebagai tanda penerimaan kas kepada
debitur.
v Bagian kas menyetor ke bank, setelah cek atas cek tersebut
dilakukan endorsement oleh pejabat yang berwenang.
v Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank
debitur.
Sistem pengendalian intern yang baik mengharuskan agar semua
penerimaan kas dari debitur harus dalam bentuk cek atas nama atau giro bilyet.
Penerimaan kas dari debitur dalam bentuk uang tunai memberikan peluang kepada
penagih untuk melakukan penyelewengan. Bentuk penerimaan kas melalui penagih
perusahaan ini yang biasa dilaksanakan di Indonesia, sedangkan bentuk lain
masih jarang dilakukan.
1.6 Prosedur
Pengendalian dan Monitoring Piutang
1.
Prosedur Pengendalian Piutang
Prosedur pengendalian piutang ialah kebijakan dalam prosedur sebagai
tambahan terhadap lingkungan pengendalian dan system akuntansi yang telah
diciptakan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan
tertentu satuan usaha akan tercapai. Prosedur pengendalian memiliki berbagai
macam tujuan yang diterapkan dalam berbagai tingkat organisasi. Prosedur
pengendalian dapat dikelompokkan ke dalam prosedur yang antara lain:
a.
Otorisasi yang
semestinya atas transaksi dan kegiatan
b.
Pemisahan tugas
yang mengurangi kesempatan yang memungkinkan seseorang dalam posisi yang dapat
melakukan dan sekaligus menutupi kekeliruan atau ketidakberesan dalam
pealksanaan tugasnya sehari-hari. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk
memberikan otorisasi transaksi, mencatat transaksi dan menyimpan aktiva perlu
dipisahkan di tangan karyawan yang berbeda.
c.
Perancangan dan
penggunaan dokumen dan catatan yang memadai untuk membantu pencatatan transaksi
secara semestinya, misalnya dengan memantau penggunaan dokumen pengiriman
barang yang bernomor urut tercetak.
d.
Pengamanan yang cukup
atas akses dan penggunaan aktiva perusahaan dan catatan, misalnya penetapan
fasilitas yang dilindungi dan otorisasi untuk akses ke program dan arsip data
komputer.
e.
Pengecekan secara
bebas atas pelaksanaan dan penilaian yang semestinya atas jumlah yang dicatat,
misalnya pengecekan atas kerjaan klerikal, rekonsiliasi, pembandingan aktiva
yang ada dengan pertanggungjawaban yang tercatat, pengawasan dengan menggunakan
program komputer, penelaahan oleh manajemen atas laporan yang mengikhtisarkan
rincian akun seperti saldo piutang yang dirinci menurut umur piutang dan
penelaahan oleh pemakai atas laporan yang dihasilkan oleh komputer.
Berkaitan
dengan pemakaian komputer dalam sistem informasi akuntansi dewasa ini, maka
perusahaan harus menerapkan pengendalian di lingkungan sistem yang
terkomputerisasi.
Winarno
memberikan dua kategori pengendalian di lingkungan sistem
terkomputerisasi ialah sebagai berikut :
1 Pengawasan
aplikasi (atau sering disebut juga dengan pengawasan transaksi) merupakan
pengawasan yang dirancang untuk menjamin bahwa (1) semua transaksi sudah
mendapat otorisasi dan (2) semua transaksi sudah dicatat, diklasifikasi,
diproses dan dilaporkan dengan teliti dan benar.
2 Pengawasan umum,
ditujukan untuk mengawasi berbagai prosedur, kegiatan atau aktiva yang tidak
secara langsung tercakup dalam pengawasan aplikasi.
Dalam pengawasan aplikasi meliputi tiga jenis pengawasan yaitu :
Ø
Pengawasan
masukan
Pengawasan masukan ialah pengawasan yang
ditujukan untuk kegiatan pencatatan transaksi, dengan pengawasan ini diharapkan
setiap transaksi dicatat dengan teliti, lengkap dan segera.
Ø
Pengawasan proses
atau pengawasan pengolahan.
Pengawasan
proses atau pengawasan pengolahan dilakukan setelah data diinput, dengan
pengawasan ini diharapkan data diolah secara teliti dan lengkap, file dan program
yang digunakan sudah benar, dan semua transaksi dan catatan lainnya dapat
ditelusuri dengan mudah. Pengawasan proses terdiri dari empat kategori yaitu :
•
Cek logika proses atau processing logic checks
•
Kontrol setiap proses atau run-to-run control
•
Cek file dan program
•
Keterkaitan telusuran audit atau audit trail lingkages.
•
Pengawasan keluaran
Pengawasan keluaran dirancang untuk menjamin keluaran yang
dihasilkan oleh sistem sudah lengkap, benar dan didistribusi ke pemakai yang
berhak. Pengawasan ini meliputi dua kegiatan yaitu mengkaji hasil pengolahan
dan pengawasan distribusi laporan.
Pengawasan umum dirancang untuk melengkapi pengawasan aplikasi.
Pengawasan ini meliputi berbagai prosedur, kegiatan dan penggunaan aktiva yang
belum tercakup dalam pengawasan aplikasi terdiri dari :
•
Praktik manajemen yang sehat meliputi perencanaan, penganggaran, pemilihan
karyawan dan pengawasan atau supervisi terhadap karyawan.
•
Pengawasan operasional yang bertujuan meningkatkan efisiensi pekerjaan tiap
karyawan. Pengawasan ini meliputi tiga tahapan yaitu penetapan standar teknis,
penilaian prestasi dan pengambilan keputusan terutama sebagai tindakan
korektif.
2.
Monitoring Piutang
Monitoring merupakan proses untuk menilai dari pelaksanaan
struktur pengendalian intern yang telah berjalan. Monitoring merupakan
pemantauan yang dilaksanakan oleh personil yang semestinya melakukan pekerjaan
tersebut baik pada tahap desain maupun pengoperasian perusahaan, agar pada
waktu yang tepat dapat menentukan apakah struktur pengendalian intern tersebut
telah memerlukan perubahan karena terjadinya perubahan keadaan.
Kell et.al, mendefinisikan monitoring sebagai berikut : Monitoring
is a process that accesses the quality of internal control structures
performance over time. It involves by appropriate of the design operation of
control on a suitable timely basis to determine that ICS is operating as
intended and that it is modified as appropiate for changes in conditions.
Monitoring dapat dilakukan selama
kegiatan berlangsung dan dapat dievaluasi secara periodik. Selama kegiatan
berlangsung pengendalian intern penjualan dan penerimaan kas hasil penagihan
piutang dilihat dari keluhan-keluhan yang diterima dari langganan seperti
kesalahan billing, terlambatnya pengiriman barang atau kesalahan pembayaran di
dalam lingkungan perusahaan sendiri. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pemantauan
terhadap hasil kerja mereka biasanya dievaluasi secara periodik, karena
manajemen akan melihat hasil laporan penjualan dan laporan penerimaan kas
bulanan atau tahunan apakah sesuai dengan anggaran yang direncanakan.
Pengendalian juga dilaksanakan oleh internal
auditor, bila internal auditor mendapati kesalahan atau penyimpangan dalam
pelaksanaan pengendalian intern penjualan dan penerimaan kas, maka harus segera
melaporkan kelemahan tersebut pada manajemen atau komite audit. Manajemen juga
dapat menerima informasi dari pihak ekstern seperti bank atau akuntan publik tentang
kelemahan struktur pengendalian intern penjualan kredit dan penagihan piutang
dalam perusahaan. Informasi yang diterima dari berbagai pihak akan menjadi
bahan pertimbangan bagi manajemen untuk memperbaiki pelaksanaan pengendalian
intern selanjutnya sehingga dapat memperbesar hasil penjualan dan jumlah
penerimaan kas perusahaan.
Dalam unsur-unsur pengendalian
intern, monitoring masih merupakan hal baru bagi perusahaan-perusahaan di
Indonesia, mungkin baru perusahaan-perusahaan besar yang menerapkannya. Namun
sebenarnya kegiatan monitoring telah berjalan dengan sendirinya dalam suatu
perusahaan. Perusahaan sering memonitoring pelaksanaan pengendalian intern
hanya apabila telah terjadi kesalahan yang fatal dan merugikan perusahaan baik
dari segi prosedur kerja maupun dari besarnya laba yang diinginkan sebagai
tujuan akhir perusahaan.
Pengendalian internal dalam penjualan kredit dapat
dilakukan dengan cara pencatatan penjualan yang didukung oleh dokumen
pengiriman yang sah dan pesanan pelanggan yang telah disetujui untuk
menghindari adanya penjualan fiktif.
Selain
itu adanya otorisasi kredit atas transaksi penjualan yang sah dalam untuk
setiap prosedur persetujuan kredit sebelum pengiriman, otorisasi pengiriman
barang, dan otorisasi penentuan harga dan syarat-syarat penjualan, pengangkutan
dan potongan secara jelas.
Adapun flowchart
penjualan kredit ialah sebagai berikut:
